Tuesday, July 07, 2009

Selamat Jalan Michael Jackson


Jumat pagi, 26 Juni 2009, di program musik Dahsyat RCTI , Luna Maya memberitakan kabar bahwa Michael Jackson telah meninggal dunia. Awalnya tidak ada perasaan khusus terhadap kabar ini, biasa saja. Tetapi ketika seluruh media massa memberitakan tentang "King Of Pop" ini, saya ikut hanyut terbawa haru. Beberapa lagu Michael seperti You're not Alone, One Day In Your Life, Ben, Will You Be There berputar sendiri di benak saya. Satu lagu yang berputar terus di benak adalah “She’s Out of My Life.”

Lagu yang menceritakan kepedihan dan penyesalan atas kehilangan seseorang yang kita cintai, tanpa kita sempat menyatakan cinta kita itu, terasa semakin merasuk. Tanpa terasa, mata saya basah.

Seperti sahabat sejati, lewat lagu-lagunya Michael pernah menangis, tertawa, atau marah “bersama” saya. Betapa shared moment itu terasa begitu berharga kini.

Ada bagian jiwa ikut pergi bersama Michael, selamanya terindukan.

Saya jadi sadar, betapa selama ini saya — dan mungkin banyak orang lain — telah membuat Michael taken for granted.

Padahal, seperti banyak seniman besar lain, Michael harus menanggung disonansi atau gap menganga yang besar antara kedalaman jiwanya dengan dunia di luar dirinya. Tekanan seperti ini amat berat dan menyakitkan, tapi ini pula yang menjadi sumber kekuatan kreativitasnya.

Hanya seorang jenius yang mampu mengartikulasikan dengan tepat kedalaman jiwa tersebut dalam karya-karya yang kemudian bisa dipahami banyak orang. Namun tetap saja, ada bagian kedalaman jiwanya yang tidak bisa dimengerti banyak orang.

Adapun pencapaian reputasi atau finansial seorang Michael hanya konsekuensi alamiah dari limpahan nilai tambah yang ia berikan buat kita lewat karya-karyanya. Itu pun masih tidak sebanding dengan pengorbanan yang ia berikan buat kita: kesepian abadi dalam jiwanya sendiri.

Michael memberi begitu banyak, tapi ia menerima begitu sedikit. Uang tidak melenyapkan penderitaannya.

Dan, sepertinya ia telah meramalkan akhir kehidupannya sendiri ketika melantunkan “Gone Too Soon”.

Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night

Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon

Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon

Born to amuse,
to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon

Selamat jalan, Michael, semoga Tuhan memberimu ampunan dan kasih sayangNya.

No comments: