Almost
summer in Surabaya. tapi pagi itu udara begitu dingin dengan mendung
menggelayut di awan kota Surabaya. Taksi yang membawa saya menuju bandara
Juanda tidak bisa melaju kencang karena jarak pandang hanya 30 meter.
Hembusan angin masuk dari sela-sela taksi dan menusuk di kulit saya yang
sempat kehujanan saat mencari taksi. Ini memang almost summer, tapi yang ada
hanya rasa dingin.
Di dekapan saya ada novel biografis 9 Summers 10 Autumns- dari kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan -- anak sopir angkot dari Batu, Malang yang meraup sukses hingga menjadi direktur di New York-- yang dalam diamnya menemani perjalanan singkat saya ke Jakarta. Ada kehangatan di sana, yang memancar dari kisah persaudaraan masa kanak-kanak yang begitu dekat, intim, dan saling mendukung meski dalam kesusahan. Susah senang ditanggung bersama, itu yang menjadikan anak-anak supir angkot yang hidup di kaki Gunung Panderman itu bertahan dalam ketidakpunyaan, bahkan impian pun terasa begitu mewah.
Di dekapan saya ada novel biografis 9 Summers 10 Autumns- dari kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan -- anak sopir angkot dari Batu, Malang yang meraup sukses hingga menjadi direktur di New York-- yang dalam diamnya menemani perjalanan singkat saya ke Jakarta. Ada kehangatan di sana, yang memancar dari kisah persaudaraan masa kanak-kanak yang begitu dekat, intim, dan saling mendukung meski dalam kesusahan. Susah senang ditanggung bersama, itu yang menjadikan anak-anak supir angkot yang hidup di kaki Gunung Panderman itu bertahan dalam ketidakpunyaan, bahkan impian pun terasa begitu mewah.
Sewaktu bertemu dengan Iwan Setyawan penulis buku 9S10A beberapa waktu lalu di acara Diskusi Buku Suara Surabaya Media, saya banyak mendapat inspirasi dan pembelajaran. Iwan Setyawan bercerita seandainya dia berada pada pulau kecil dan gersang, tapi dari pulau kecil itu dia melihat pulau-pulau lain yang lebih besar dan indah. Dan kalau dia hanya berdiam di pulau kecil itu, tidak akan mendapatkan apa-apa dan hidupnya akan tetap garing. Kalau ingin berubah, dia harus pindah ke pulau lain yang di tempuh dengan berlayar. Sedangkan berlayar dibutuhkan suatu keberanian dan kekuatan, karena di tengah pelayaran akan menjumpai badai, gelombang besar, kapal yang ditumpangi akan tenggelam. Untuk itu dibutuhkan suatu keberanian untuk berlayar. Keberanian menurut Iwan suatu INTEKTUAL dan WISDOM. Kalau kita sudah dibekali intektual dan wisdom barulah kita berlayar, biar perahu kita bisa kuat. Pesan yang disampaikan adalah "Berlayar, terus berlayar jangan hanya menunggu keajaiban akan datang"
Dalam novel ini saya menemui puisi Chairil Anwar berpadu dengan puisi Paul Verlaine, roman Fyodor Dostoevsky, pementasan opera, untuk melukiskan suasana psikologis tokoh aku yang "bergulat" dengan sosok anak kecil berseragam merah putih yang tak lain adalah dirinya sendiri. Pergulatannya bukan dalam bentuk fisik, melainkan sebuah wawawancara yang dalam ilmu psikologi disebut self-reflection. Who do you see when you look in the mirror? Who are you looking for? Apa yang terlihat saat memandang di cermin? Siapa yang dicari?
Dalam novel ini, tampak jelas bahwa yang sedang dipandang penulis adalah sosok dirinya sendiri ketika kecil, yang memandang impian itu begitu mewah, yang meradang atas ketidakpunyaan yang mendera keluarganya yang ia sampaikan dalam lontaran aku kapok dadi kere, yang masih polos. Ia memandang masa lalunya, mengunjunginya kembali dalam 35 bab di dalam novelnya, dimana ia menuliskan secara jelas di awal bab 6 bahwa "Menulis kembali kenangan masa lalu butuh sebuah keberanian."
Memang butuh keberanian untuk mengunjungi masa lalu kita, berekonsiliasi dengan apa yang telah terjadi, membuka pintu maaf dan memutuskan untuk terus berjalan dalam kedamaian. Untuk semua upaya itu, menurut saya novel ini berhasil menjalankan tugasnya.
Namun novel ini juga mengemban tugasnya yang lain, yang memotivasi orang lain untuk terus berusaha dan percaya pada kemampuan. Bahwa semesta tidak diam begitu saja, ia bekerja dengan misterius, membukakan pintu-pintu penjelajahan dan mengalirkan setiap insan ke dalam samudera kehidupan. Bahwa kita, harus menyiapkan perahu untuk bisa mengarunginya agar selamat sampai di tujuan. Tugas inipun saya pikir telah berhasil dijalankan oleh novel ini.
Saya pun berpikir bahwa novel ini akan tambah menarik bila dinilai dalam struktur opening-middle-ending. Ia menyajikan opening yang cepat, cerdas dan memikat. Saya seolah ikut sesak dan tercekat saat menghadapi peristiwa perampokan, dan jatuh penasaran untuk tahu bagaimana kelanjutannya. Namun dalam bagian middle hingga ending, gaya yang cepat dan repetitif ini tidak mampu menjaga rasa penasaran karena saya tidak merasakan adanya kedinamisan dalam plot. Tidak ada klimaks, kalaupun klimaks yang disajikan adalah keputusan pulang si penulis, tetapi tidak tersaji sebagai klimaks --seolah keputusan pulang itu hanyalah sebuah keputusan psikologis yang hanya boleh diketahui oleh penulis--. Apa yang membuatmu ingin pulang? Kejenuhan kah? Kekosongan dan kehampaan kah? Dingin yang menggigit di sana kah? atau keinginan mempunyai kamar sendiri yg diimpikan sejak kecil telah tercapai? Saya tak sampai hati untuk menerka-nerka.
Udara masih dingin saat saya meninggalkan Jakarta menuju Surabaya kembali. Tapi saya tetap ingat bahwa dalam perjalanan di sana, ada pendar kehangatan yang membuat saya tetap bertahan: membaca novel biografis ini.
Jika kawan-kawan belum sempat bertemu Iwan Setyawan pada tanggal 16 April 2011 di Hall Suara Surabaya Media, saksikan penampilan Iwan di Kick Andy, hari jumat 20 mei 2011 pukul 21.30-23.00. Salahsatu kegiatan Iwan Setyawan memberikan pengalaman hidupnya bersama penikmat buku Suara Surabaya Media tergambar di slide episode Kick Andy malam ini -Ke Tanah Air Kami Kembali. Jangan lewatkan
Thanks for Foto :
www.suarasurabaya.net
-Novri
-Novri


No comments:
Post a Comment