Saturday, April 04, 2009

Mencintai atau Dicintai

“Ijinkan aku untuk terakhir kali, semalam bersamamu mengenang asmara kita. Aku berharap, semoga kita tak berpisah dan kau maafkan kesalahan yang pernah kubuat”

Begitu sms yang aku terima dari Edward, seseorang yang selama ini aku harapkan sebagai pelabuhanku terakhir.Tapi sampai usiaku beranjak senja, Edward tidak pernah mengajakku berlabuh dalam ikatan perkawinan. Edward selalu mengelak dan mengalihkan percakapan kalau aku sudah membicarakan soal pernikahan. Edward langsung mencium pipiku dan memelukku dengan erat kalau aku mulai bicara soal pernikahan.

“menikah itu butuh mental yang matang dan aku belum siap, sayang” bisik Edward di telingaku dan tambah erat memelukku.

“Tapi hubungan kita sudah matang banget, malah hampir busuk” protesku dan berusaha melepaskan pelukan Edward.

Bukannya melepaskan pelukanku, tapi Edward malah tambah semangat memelukku dan aku susah untuk menolaknya. Itulah rutinitasku selama ini bersama Edward yang aku kenal hampir 17 tahun yang lalu.

Dan, ketika Recto mengajakku menikah 2 minggu yang lalu, aku tanpa pikir panjang lagi langsung menerimanya. Recto kakak kelasku di SMA yang secara tidak sengaja selalu bertemu dalam beberapa kesempatan dimana aku sedang rapuh. Aku kadang heran, Recto tiba-tiba muncul di kehidupan, ketika aku dan Edward bertengkar hebat.

Seperti malam itu ketika aku dan Edward sedang nonton film Benjamin Button, tiba-tiba Edward meninggalkanku sendiri di gedung bioskop.

“Sayang, aku ada keperluan mendadak dan penting nih, aku tinggal dulu, nanti pulangnya naik taksi aja ya” kata Edward sembari mencium keningku

“Hah? ini udah jam 11 malam Edward, bagaimana kamu biarkan aku sendirian di bioskop dan pulang sendiri” jawabku

“Tapi ini ada sesuatu yang penting soal kerjaan sayang” Edward kembali mendaratkan ciumannya di pipiku

“Aku ikut”

“Kita kan sudah komitmen soal kerjaan, tidak saling mencampuri” Edward mulai kesal.

“Aku tunggu dimobil” rengekku

“Tidak untuk sekarang, sayang!” lirihnya, karena takut kedengaran penonton lainnya.

Aku hanya bisa terdiam sambil memandang Edward meninggalkanku dan aku masih duduk di gedung bioskop sampai film yang mendapat 13 nominasi Oscar tahun 2009 selesai.


Ketika menunggu taksi di tengah kegelapan malam, ada bayangan yang mulai mendekatiku. Bulu kudukku mulai berdiri, memikirkan kejadian kejahatan yang marak terjadi di kota-kota besar. Dalam hati, aku akan mengumpat dan bersumpah, kalau terjadi sesuatu pada diriku, Edward tidak akan pernah aku maafkan.
Bayangan hitam itu mulai mendekat dan ketika aku menoleh.

“Recto ? “

“Kenapa sendirian malam2 begini Ve,” jawab Recto

“Huh! Edward tiba-tiba meninggalkan aku hanya untuk urusan kerjaan, ternyata dia lebih cinta kerjaannya ketimbang aku. Aku baru sadar sekarang, kayaknya tidak mungkin aku menunggu dia lagi, kalau ada yang mau denganku, kalau ada yang ngajak aku menikah saat ini, aku akan tinggalkan Edward” curhatku sampai2 aku tidak memberi kesempatan Recto bicara.

“Ve, loving you has made me happier than I’ve ever been before anda I necer want to stop. Will you marry with me”

“What?, Recto..!! wake up!!! kamu gak salah minum obat kan?” kata aku sambil menepuk wajahnya.

“Ve, aku serius!”

“No!, kamu hanya kasian sama aku”

“Kamu salah Ve, aku serius mencintaimu, please menikah lah denganku, Recto memohon sambil berlutut.

“Recto, berdiri kamu!, dilihat orang nanti dikira kamu gila!” perintahku

“Please Ve, aku ingin membuat kamu bahagia di sisa umurku”

Malam itu aku tidak menjawab ajakan Recto. Hanya bisa diam seribu bahasa sepanjang perjalanan pulang diantar mobil Innova milik Recto. Baru setelah beberapa hari berikutnya ajakan menikah dengan Recto aku terima dengan hati sedikit terpaksa. Tapi aku berusaha untuk menerima kenyataan dan rahasia Tuhan yang diberikan padaku.

Tiga hari lagi, pernikahanku dan Recto akan dilaksanakan. Kami sepakat tidak merayakan pernikahan dengan pesta besar. Ini mungkin pernikahan yang sudah terlambat jadi malu kalau di dirayakan besar-besaran. Persiapan sederhana sudah nampak di rumahku. Namun aku mulai terusik dengan sms Edward yang baru saja aku baca. Edward ingin bertemu denganku untuk mengenang masa-masa kami berdua selama hampir 17 tahun yang lalu.

Aku berusaha menolak dengan membalas sms Edward dengan kalimat yang halus supaya Edward tidak tersinggung.

“Maaf, Edward. aku lagi masa pinggit, tidak mungkin aku meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan keluargaku” balas smsku

“Aku telpon kamu ya!, aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, Ve!” Edward kirim sms lagi.

Belum sempat aku membalas sms Edward, lagu Pilihan milik Maliq n d’esstials berdering dari HP samsungku. MY HUBBY begitu tulisan yang muncul di layar handphone.

“Halo Edward”

“Ve, maafkan aku ya, aku tidak sangka kamu mau menerima lamaran Recto, karena aku yakin kamu tidak mencintai Recto”

“Aku capek Ed, dengan status kita yang tidak pernah jelas”

“Maafkan aku Ve, aku memang bukan laki-laki yang baik”

“Iya aku tahu, kamu bukan laki-laki yang baik, tapi aku tidak bisa lepas dari bayanganmu.”

“Ve, jujurlah padaku, kamu mencintai Recto?”

“Ya, meski tidak sebesar cintaku padamu”

“Ve, kamu yakin bisa hidup dengan Recto?”

“Mudah-mudahan, kalau ada keyakinan yang besar dalam diriku, aku yakin bisa aku jalani hidup bersama Recto”

“Ve, seandainya malam ini aku mengajak kamu menikah, mau kah Ve?, maukah kamu mengagalkan pernikahanmu dengan Recto? pinta Edward dengan suara yang mulai lirih dan nyaris tak terdengar.

“Too late, Edward”

“Maafkan aku Ve, tapi aku memohon Ve, menikah dengan aku”

“Edward!!” mulai kesal lihat tingkanya Edward

“Aku selama ini pengecut, laki-laki yang tidak punya pendirian, laki-laki yang sangat tergantung dengan seseorang”

“Maksudmu ?”

“Tahu Ibu Rilly, kan ?”

“Kenal banget, atasan yang sangat menyayangimu, kan”

“Dia yang selama ini mengatur hidupku, dia yang memberi aku jabatan tinggi dan fasilitas hidupku, dia juga memberikan surga dunia buat aku.”

“Sudah kuduga tapi aku tidak punya bukti”

“Ve, maafkan aku. Tapi apa yang sudah aku dapatkan dari Ibu Rilly tidak ada artinya dan semu belaka. Kebahagiaan sepanjang masa hanya aku dapatkan jika kamu disisiku.”

“Huhh” aku ambil nafas dalam-dalam dan perlahan aku hembuskan.

“Ve, Ibu Rilly yang tidak memperbolehkan aku menikah dengan kamu, dia selalu mengancam akan bunuh diri dan menuduh aku sebagai pelakunya”

“Hah?, kamu tidak sedang main sinetron kan Ed?”

“Ve, kamu harus percaya sama aku!” pinta Edward

“Kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita ?”

“Aku laki-laki pengecut Ve, Aku takut Ve, Aku takut kehilangan kamu, kalau aku cerita yang sebenarnya”

“Ah, alasanmu. tapi kenapa kamu cerita juga sekarang?”

“Aku tidak sangka kamu mau menikah dengan Recto,”

“Kenapa dengan Recto?”

“Kamu belum tahu siapa dia?”

“Aku sangat kenal Recto, dia kakak kelasku waktu di SMA”

“Tapi kamu tidak tahu kehidupannya sekarang”

“I don’t care, hanya Recto yang berani melamarku, sedangkan kamu? aku bahkan sampai mengemis memohon untuk menikah dengan kamu, tapi ada aja alasan untuk mengelak”

“Ve, bukan maksudku..”
“Sudahlah Ed, aku tidak ingin berselisih denganmu, tiga hari lagi aku menikah dengan Recto, semua persiapan sudah beres. Tidak mungkin aku mengecewakan keluargaku, hanya karena egomu.”

“Ve, aku yakin kamu tidak akan bahagia bersama Recto”

“Itu urusanku, ini hidupku dan kamu tidak berhak untuk mengatur hidupku”

“Ve, biar adil. Kalau kamu menikah dengan Recto menikahlah juga denganku”

“Hah? poliandri!!, gila kamu!. agamaku melarang poliandri!”

“Kalau gitu, kita bertiga tidak usah menikah dengan siapapun”

“Edward, apa maumu sih!”

“Dengar Ve, kita saling MENCINTAI, kita saling SAYANG tapi orang-orang disekitar kita menghalangi CINTA kita. Nyawa taruhannya Ve. Ingin rasanya aku membawamu ke daerah terpencil yang tidak ada dalam peta dan kita hidup bersama menikmati CINTA KITA, tapi aku tidak mampu”

“TUtt….”

“Ve,Halo… Ve… Velinka…”

-Tiga hari kemudian-,

Hari ini menjadi hari bersejarah buat aku, menikah menjadi bagian terpenting bagi hidup seorang wanita. Menikah dengan Edward menjadi impianku sejak lulus kuliah, tapi Tuhan berkehendak lain. Recto mungkin kasian dengan keadaanku, maka dia rela menikahiku dengan segala kekurangannya. Sehari menjelang pernikahan, Recto baru mengaku kalau dia mengalami kanker Prostat dan dokter sudah memvonis usianya tidak lebih dari 6 bulan. Namun Recto selalu optimis bahwa hidupnya yang menentukan bukan dokter tapi Tuhan.

Didepan penghulu aku melihat wajah Recto sangat ceria dan senyum manis yang dilemparkan kepadaku. Recto tidak nampak sehat dan bugar mesi penyakit mematikan sudah mengerogoti tubuhnya. Aku melihat Edward duduk sebelah Recto mendampingi Recto. Sesekali Edward mencuri pandang ke arahku. Tampak dideretan tamu, aku melihat Ibu Rilly, induk semang Edward yang telah menghancurkan hubunganku dengan Edward. Dan diantara tamu yang hadir aku melihat seseorang yang bertingkah aneh, seorang pria berkulit putih mondar-mandir memperhatikan Recto. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang ada dibenaknya.

Selang beberapa saat, bapak penghulu siap menikahi kami. Aku hanya duduk di ruang tengah, sedangkan Recto berhadapan dengan penghulu dan ayahku.

“Saya nikahkan dan kawinkan anak kandung saya Velinka Anisari dengan Ananda Recto Kemalludin dengan mas kawin berupa perhiasan emas seberat 26 gram dan perangkat sholat, Tunai” kata ayahku.

Belum sempat Recto menjawab, suara tembakan meletus dalam suasana ijab kabul itu. Suara teriakan dibarengi dengan bubarnya para undangan yang berada di ruang depan membuat acara ijab kabul itu terhenti.

“Ya Tuhan, apakah tidak kau ijinkan lagi aku menikah hari ini ?”

“EDWARDDDDDDDD,” suara teriakan dan raungan Ibu Rilly.

“Ijinkan aku untuk terakhir kali, semalam bersamamu mengenang asmara kita. Aku berharap, semoga kita tak berpisah dan kau maafkan kesalahan yang pernah kubuat”

Begitu sms yang aku terima dari Edward, seseorang yang selama ini aku harapkan sebagai pelabuhanku terakhir.Tapi sampai usiaku beranjak senja, Edward tidak pernah mengajakku berlabuh dalam ikatan perkawinan. Edward selalu mengelak dan mengalihkan percakapan kalau aku sudah membicarakan soal pernikahan. Edward langsung mencium pipiku dan memelukku dengan erat kalau aku mulai bicara soal pernikahan.

“menikah itu butuh mental yang matang dan aku belum siap, sayang” bisik Edward di telingaku dan tambah erat memelukku.

“Tapi hubungan kita sudah matang banget, malah hampir busuk” protesku dan berusaha melepaskan pelukan Edward.

Bukannya melepaskan pelukanku, tapi Edward malah tambah semangat memelukku dan aku susah untuk menolaknya. Itulah rutinitasku selama ini bersama Edward yang aku kenal hampir 17 tahun yang lalu.

Dan, ketika Recto mengajakku menikah 2 minggu yang lalu, aku tanpa pikir panjang lagi langsung menerimanya. Recto kakak kelasku di SMA yang secara tidak sengaja selalu bertemu dalam beberapa kesempatan dimana aku sedang rapuh. Aku kadang heran, Recto tiba-tiba muncul di kehidupan, ketika aku dan Edward bertengkar hebat.

Seperti malam itu ketika aku dan Edward sedang nonton film Benjamin Button, tiba-tiba Edward meninggalkanku sendiri di gedung bioskop.

“Sayang, aku ada keperluan mendadak dan penting nih, aku tinggal dulu, nanti pulangnya naik taksi aja ya” kata Edward sembari mencium keningku

“Hah? ini udah jam 11 malam Edward, bagaimana kamu biarkan aku sendirian di bioskop dan pulang sendiri” jawabku

“Tapi ini ada sesuatu yang penting soal kerjaan sayang” Edward kembali mendaratkan ciumannya di pipiku

“Aku ikut”

“Kita kan sudah komitmen soal kerjaan, tidak saling mencampuri” Edward mulai kesal.

“Aku tunggu dimobil” rengekku

“Tidak untuk sekarang, sayang!” lirihnya, karena takut kedengaran penonton lainnya.

Aku hanya bisa terdiam sambil memandang Edward meninggalkanku dan aku masih duduk di gedung bioskop sampai film yang mendapat 13 nominasi Oscar tahun 2009 selesai.

Ketika menunggu taksi di tengah kegelapan malam, ada bayangan yang mulai mendekatiku. Bulu kudukku mulai berdiri, memikirkan kejadian kejahatan yang marak terjadi di kota-kota besar. Dalam hati, aku akan mengumpat dan bersumpah, kalau terjadi sesuatu pada diriku, Edward tidak akan pernah aku maafkan.
Bayangan hitam itu mulai mendekat dan ketika aku menoleh.

“Recto ? “

“Kenapa sendirian malam2 begini Ve,” jawab Recto

“Huh! Edward tiba-tiba meninggalkan aku hanya untuk urusan kerjaan, ternyata dia lebih cinta kerjaannya ketimbang aku. Aku baru sadar sekarang, kayaknya tidak mungkin aku menunggu dia lagi, kalau ada yang mau denganku, kalau ada yang ngajak aku menikah saat ini, aku akan tinggalkan Edward” curhatku sampai2 aku tidak memberi kesempatan Recto bicara.

“Ve, loving you has made me happier than I’ve ever been before anda I necer want to stop. Will you marry with me”

“What?, Recto..!! wake up!!! kamu gak salah minum obat kan?” kata aku sambil menepuk wajahnya.

“Ve, aku serius!”

“No!, kamu hanya kasian sama aku”

“Kamu salah Ve, aku serius mencintaimu, please menikah lah denganku, Recto memohon sambil berlutut.

“Recto, berdiri kamu!, dilihat orang nanti dikira kamu gila!” perintahku

“Please Ve, aku ingin membuat kamu bahagia di sisa umurku”

Malam itu aku tidak menjawab ajakan Recto. Hanya bisa diam seribu bahasa sepanjang perjalanan pulang diantar mobil Innova milik Recto. Baru setelah beberapa hari berikutnya ajakan menikah dengan Recto aku terima dengan hati sedikit terpaksa. Tapi aku berusaha untuk menerima kenyataan dan rahasia Tuhan yang diberikan padaku.

Tiga hari lagi, pernikahanku dan Recto akan dilaksanakan. Kami sepakat tidak merayakan pernikahan dengan pesta besar. Ini mungkin pernikahan yang sudah terlambat jadi malu kalau di dirayakan besar-besaran. Persiapan sederhana sudah nampak di rumahku. Namun aku mulai terusik dengan sms Edward yang baru saja aku baca. Edward ingin bertemu denganku untuk mengenang masa-masa kami berdua selama hampir 17 tahun yang lalu.

Aku berusaha menolak dengan membalas sms Edward dengan kalimat yang halus supaya Edward tidak tersinggung.

“Maaf, Edward. aku lagi masa pinggit, tidak mungkin aku meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan keluargaku” balas smsku

“Aku telpon kamu ya!, aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, Ve!” Edward kirim sms lagi.

Belum sempat aku membalas sms Edward, lagu Pilihan milik Maliq n d’esstials berdering dari HP samsungku. MY HUBBY begitu tulisan yang muncul di layar handphone.

“Halo Edward”

“Ve, maafkan aku ya, aku tidak sangka kamu mau menerima lamaran Recto, karena aku yakin kamu tidak mencintai Recto”

“Aku capek Ed, dengan status kita yang tidak pernah jelas”

“Maafkan aku Ve, aku memang bukan laki-laki yang baik”

“Iya aku tahu, kamu bukan laki-laki yang baik, tapi aku tidak bisa lepas dari bayanganmu.”

“Ve, jujurlah padaku, kamu mencintai Recto?”

“Ya, meski tidak sebesar cintaku padamu”

“Ve, kamu yakin bisa hidup dengan Recto?”

“Mudah-mudahan, kalau ada keyakinan yang besar dalam diriku, aku yakin bisa aku jalani hidup bersama Recto”

“Ve, seandainya malam ini aku mengajak kamu menikah, mau kah Ve?, maukah kamu mengagalkan pernikahanmu dengan Recto? pinta Edward dengan suara yang mulai lirih dan nyaris tak terdengar.

“Too late, Edward”

“Maafkan aku Ve, tapi aku memohon Ve, menikah dengan aku”

“Edward!!” mulai kesal lihat tingkanya Edward

“Aku selama ini pengecut, laki-laki yang tidak punya pendirian, laki-laki yang sangat tergantung dengan seseorang”

“Maksudmu ?”

“Tahu Ibu Rilly, kan ?”

“Kenal banget, atasan yang sangat menyayangimu, kan”

“Dia yang selama ini mengatur hidupku, dia yang memberi aku jabatan tinggi dan fasilitas hidupku, dia juga memberikan surga dunia buat aku.”

“Sudah kuduga tapi aku tidak punya bukti”

“Ve, maafkan aku. Tapi apa yang sudah aku dapatkan dari Ibu Rilly tidak ada artinya dan semu belaka. Kebahagiaan sepanjang masa hanya aku dapatkan jika kamu disisiku.”

“Huhh” aku ambil nafas dalam-dalam dan perlahan aku hembuskan.

“Ve, Ibu Rilly yang tidak memperbolehkan aku menikah dengan kamu, dia selalu mengancam akan bunuh diri dan menuduh aku sebagai pelakunya”

“Hah?, kamu tidak sedang main sinetron kan Ed?”

“Ve, kamu harus percaya sama aku!” pinta Edward

“Kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita ?”

“Aku laki-laki pengecut Ve, Aku takut Ve, Aku takut kehilangan kamu, kalau aku cerita yang sebenarnya”

“Ah, alasanmu. tapi kenapa kamu cerita juga sekarang?”

“Aku tidak sangka kamu mau menikah dengan Recto,”

“Kenapa dengan Recto?”

“Kamu belum tahu siapa dia?”

“Aku sangat kenal Recto, dia kakak kelasku waktu di SMA”

“Tapi kamu tidak tahu kehidupannya sekarang”

“I don’t care, hanya Recto yang berani melamarku, sedangkan kamu? aku bahkan sampai mengemis memohon untuk menikah dengan kamu, tapi ada aja alasan untuk mengelak”

“Ve, bukan maksudku..”
“Sudahlah Ed, aku tidak ingin berselisih denganmu, tiga hari lagi aku menikah dengan Recto, semua persiapan sudah beres. Tidak mungkin aku mengecewakan keluargaku, hanya karena egomu.”

“Ve, aku yakin kamu tidak akan bahagia bersama Recto”

“Itu urusanku, ini hidupku dan kamu tidak berhak untuk mengatur hidupku”

“Ve, biar adil. Kalau kamu menikah dengan Recto menikahlah juga denganku”

“Hah? poliandri!!, gila kamu!. agamaku melarang poliandri!”

“Kalau gitu, kita bertiga tidak usah menikah dengan siapapun”

“Edward, apa maumu sih!”

“Dengar Ve, kita saling MENCINTAI, kita saling SAYANG tapi orang-orang disekitar kita menghalangi CINTA kita. Nyawa taruhannya Ve. Ingin rasanya aku membawamu ke daerah terpencil yang tidak ada dalam peta dan kita hidup bersama menikmati CINTA KITA, tapi aku tidak mampu”

“TUtt….”

“Ve,Halo… Ve… Velinka…”

-Tiga hari kemudian-,

Hari ini menjadi hari bersejarah buat aku, menikah menjadi bagian terpenting bagi hidup seorang wanita. Menikah dengan Edward menjadi impianku sejak lulus kuliah, tapi Tuhan berkehendak lain. Recto mungkin kasian dengan keadaanku, maka dia rela menikahiku dengan segala kekurangannya. Sehari menjelang pernikahan, Recto baru mengaku kalau dia mengalami kanker Prostat dan dokter sudah memvonis usianya tidak lebih dari 6 bulan. Namun Recto selalu optimis bahwa hidupnya yang menentukan bukan dokter tapi Tuhan.

Didepan penghulu aku melihat wajah Recto sangat ceria dan senyum manis yang dilemparkan kepadaku. Recto tidak nampak sehat dan bugar mesi penyakit mematikan sudah mengerogoti tubuhnya. Aku melihat Edward duduk sebelah Recto mendampingi Recto. Sesekali Edward mencuri pandang ke arahku. Tampak dideretan tamu, aku melihat Ibu Rilly, induk semang Edward yang telah menghancurkan hubunganku dengan Edward. Dan diantara tamu yang hadir aku melihat seseorang yang bertingkah aneh, seorang pria berkulit putih mondar-mandir memperhatikan Recto. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang ada dibenaknya.

Selang beberapa saat, bapak penghulu siap menikahi kami. Aku hanya duduk di ruang tengah, sedangkan Recto berhadapan dengan penghulu dan ayahku.

“Saya nikahkan dan kawinkan anak kandung saya Velinka Anisari dengan Ananda Recto Kemalludin dengan mas kawin berupa perhiasan emas seberat 26 gram dan perangkat sholat, Tunai” kata ayahku.

Belum sempat Recto menjawab, suara tembakan meletus dalam suasana ijab kabul itu. Suara teriakan dibarengi dengan bubarnya para undangan yang berada di ruang depan membuat acara ijab kabul itu terhenti.

“Ya Tuhan, apakah tidak kau ijinkan lagi aku menikah hari ini ?”

“EDWARDDDDDDDD,” suara teriakan dan raungan Ibu Rilly.

Kegaduhan tambah menjadi setelah teriakan Ibu Rilly mengetahui Edward tertembak.

“Bedebah!! aku bunuh kamu, Ditya” Ibu Rilly mengejar seseorang.

Nampak Ibu Rilly keluar rumah mengejar laki-laki berkulit putih yang tadi aku curiga keberadaannya. Dengan langkah seribu Ibu Rilly akhirnya bisa menangkap dan menghajar laki-laki itu

“Kenapa kamu tembak Edward!”

“Aku tidak sanggup tembak wanita itu, dia wanita baik” jawab laki-laki itu

“Tapi kenapa kamu tembak Edward!”

“Aku tidak sengaja, karena Edward menghalang halangi Recto”

“Recto? apa urusanmu dengan laki-laki yang hampir mati itu”

“Aku yang tidak rela kalo Recto menikah dengan wanita itu”

Ibu Rilly tidak kuasa menahan amarah kepada laki-laki yang dipanggil Ditya itu, lalu dia merebut pistol dari tangannya dan menembakkan 3 peluru ke arah tubuh laki-laki tersebut.

Para undangan yang melihat kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berteriak. Ibu Rilly panik apa yang sudah dia lakukan dan karena ketakutan Ibu Rilly melepaskan sisa peluru kearah kepalanya.

Dorr!!!

terkaparlah mereka berdua, Ibu Rilly dan Ditya

-3 Minggu Kemudian-

Tuhan masih sayang dengan Edward, setelah kejadian penembakan di pernikahanku, nyawa Edward bisa tertolong meski akhirnya dia harus duduk di kursi roda selama hidupnya. Recto makin hari makin menunjukkan semangat hidup meski kankernya sudah menjalar keseluruh tubuhnya.

Hari ini mudah-mudahan menjadi hari bersejarah buat aku, menikah menjadi bagian terpenting bagi hidup seorang wanita. Dan akhirnya aku Menikah dengan Edward, impianku sejak lulus kuliah.

Penghulu dan Ayahku kembali berhadapan dengan Edward kali ini Recto yang mendampingi.

“Saya nikahkan dan kawinkan anak kandung saya Velinka Anisari dengan Ananda Edward Hirata dengan mas kawin berupa perhiasan emas seberat 26 gram dan perangkat sholat, Tunai” kata ayahku

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Velinka Anisari dengan mas kawin yang tersebut, tunai”

“Sah” kata penghulu