Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama -
Jakarta
Tahun Terbit : 2010
Hal : 461
Kategori : Budaya
Apa yang ada dalam benak anda mendengar nama
Afghan? ll "Penyanyi" ll Ah, bukan itu lah.
Afghan atau lebih dikenal Afghanistan identik
dengan Perang, Kemiskinan, Taliban, Teror bagi kebanyakan orang. Afghanistan
membawa kesan kelabu dan melankolis. Tetapi di negeri yang tak kunjung usai
dihajar perang puluhan tahun ini ternyata ada impian, tradisi kuno, kebanggan
dan peradaban.
Afghanistan adalah negeri yang terselubung
"Khaak" atau debu. Debu bukan sekedar debu. Bagi orang
Afghan, debu itulah dari mana mereka berasal dan kemana nanti mereka berakhir.
Debu adalah sejarah mereka, masa lalu dan kebanggaan, kecintaan dan
penghormatan. Dari debu yang tanpa makna itulah kebanggaan Afghanistan
bermula.
Buku Selimut Debu merupakan kumpulan tulisan dari
penjelajahan Agustinus Wibowo di Afghanistan. Negara yang berkali-kali dilanda
perang mulai dari serangan Uni Soviet, Mujahiddin dan Taliban hingga sekarang
serangan bom bunuh diri pun masih sering terjadi. Sebenarnya banyak sekali
bantuan dana mengalir ke negeri ini. Dana tersebut ditujukan untuk pembangunan
kembali infrastruktur serta pelayanan kesehatan. Namun, korupsi yang merajalela
pada pemerintahan membuat aliran dana itu pun tersesat hilang ke saku para
pejabat. Ditambah lagi perilaku warganya yang sangat kesukuan. Afghanistan yang
terdiri dari berbagai suku seperti Pashtun, Hazara dan lainnya saling menilai
bahwa sukunyalah yang terbaik sedangkan suku lainnya adalah penipu. Hal ini
terkadang memicu kekerasan antar suku dengan suku yang lainnya.
Saya tidak menyangka, Agustinus pemuda asal
Lumajang Jawa Timur dan non muslim juga mempunyai ketertarikan yang begitu besar
terhadap Afghanistan yang sarat konflik. Di sana bukan tempatnya memanjakan mata
dengan panorama eksotis, melainkan menyaksikan pertarungan hidup dalam banyak
area. Ketika ledakan bom menjadi banal, ketika merebahkan diri bukan di kasur
empuk -melainkan sudut sebuah samavor (kedai teh) yang hiruk pikuk, ketika
manusia dari berbagi lapisan mempertontonkan kepedihan yang mengiris
hati.
Sajian bermuatan budaya menjadikan buku ini kaya.
Budaya, yang perlu digarisbawahi dan dicetak tebal, yang menyamarakan segolongan
manusia. Jarangnya meja dan kursi, sebab masyarakat Afghanistan terbiasa makan
di lantai tanah yang ditinggikan. Orang-orang dari kelompok etnis yang saling
menunjuk, terutama pada situasi yang tidak menguntungkan. Untuk hal baik, pasti
etnik sendiri yang disanjung. Kalau buruk, cukup etnik lain yang jadi kambing
hitamnya [hal.111].
Dalam kesendirian dan petualangannya, Agustinus
berbagi pelajaran yang ia rangkum. Misalnya sikap mematok diri sebagai
backpacker yang berkantong bolong. Ia senantiasa menawar setiap harga
mati-matian dengan senjata andalan, "Man bepul hastam..Saya tak punya uang."
Tak ubahnya doa, perilaku ini diganjar Tuhan dengan sebuah teguran :
dompetnya hilang. dan ia harus makan nasi sisa agar dapat bertahan.
Satu hal lagi yang menarik dalam tulisan
Agustinus Wibowo adalah tentang Bachabazi. Bachabazi berasal dari kata
bacha yang artinya bocah laki-laki, dan bazi artinya 'bermain'. 'Bermain' bocah
adalah hubungan seksual antara 2 pria, biasanya konotasinya adalah lelaki
yang lebih tua 'bermain' dengan bocah yang masih muda. Di negara lain
mungkin hal ini dikenal dengan istilah pedofilia. Kebiasaan ini sudah menjadi
kultur bagi suku Uzbek dan suku Pasthun. Mereka yang melakukan
bachabazi bahkan dihormati. Para orangtua bocah-bocah tersebut juga bangga
karena anak mereka diperlakukan sebagai boneka hidup oleh 'orang terhormat'
tersebut.
Saya langsung teringat tokoh Assef mensodomi
Hasan yang ditulis Khaled Hosseini dalam bukunya "Kite Runner". Selesai
membaca bab itu, saya cukup terkejut, sesak heran dan tak habis pikir,
bagaimana Hosseini bisa menempatkan konflik ini dalam novel yang berlatar
Afghanistan. Maklum saya memang masih buta tentang negara penuh gejolak itu.
Setelah membaca buku Selimut Debu ini hampir 3/4 nya saya tersadar, ternyata isu
bachabazi adalah sebuah rahasia umum yang menjadi lelucon melegenda bahkan
diabadikan oleh para pujangga Afghan dalam puisi-puisi mereka. Dalam budaya
mereka yang sangat memuja kemachoan, fenomena ini bagai ironi, tak terkecuali
dengan kisah Agustinus yang mengalami langsung percobaan 'pemaksaan'
untuk melakukan bachabazi.
Lembar-lembar foto yang mempersemarak buku ini
mengukuhkan bahwa perjalanan adalah memahami keberagaman di bumi. Merenungkan
bahwa tidak semua orang mujur menghirup udara bersih, lolos dari kecurigaan,
menikmati air yang berlimpah atau tidur lelap. Jejak Agustinus Wibowo
di Iran menguraikan satu fenomena yang pedih, imigran Afghan yang
dipandang sebelah mata oleh penduduk asli Iran. Tentu bukan tanpa alasan,
penggganguran di Iran melonjak tajam semenjak orang Afghan berbondong-bonding
mengadu nasib di negeri modern itu. Pasca lengsernya pemerintahan Ayatullah
Khomeini, masyakarat Iran berupaya keras memulangkan pengungsi Afghan ke tanah
air mereka.
Bukan isapan jempol bila paparan Agustinus akan
kepedihan yang ditanggung orang Afghan di negeri para Mullah amat mencabik
hati, seperti tatkala seorang kakek dan cucunya dibiarkan berjalan kaki
selama dua hari karena sopir bus tak mau mengangkut mereka. Dandanan Agustinus
yang menyerupai pendatang Afghan, aksennya, bahkan paspor Indonesia yang
ditunjukkannya tidak membuat pemuda kelahiran tahun 1981 ini luput dari sikap
diskriminatif. Kendati demikian, ia menyuguhkan sudut berimbang, semisal kala
melihat orang-orang Afghan berebut paspor di gedung imigrasi.
Mereka tidak punya pilihan, sebab di negeri
sendiri yang tersedia hanya Khaak (debu). Tak peduli harus tidur di
atas karung, mereka tak gentar. Menjadi 'Afghan' berarti berani, tahan banting dan pantang mundur. [hal.
330]
Selimut Debu tidak melulu menggelontorkan rasa
pilu. Saya tersenyum kala seorang kakek heran melihat Agustinus mengenakan
kacamata. Begitu mengetahui penyebabnya, kakek itu melarang Agustinus jangan
banyak membaca buku karena tidak sehat untuk mata. Juga masyarakat Afghanistan
yang cukup gemar memberi nama putra mereka Bismillah, sehingga seorang anak
merasa dipanggil saat guru membaca doa. Senyuman akan kembali terbit sewaktu
Agustinus panik menjelaskan flashdisk-nya hilang kepada tuan rumah dan rombongan
yang kebingungan.
Satu hal yang ditarik Agustinus, juga saya
sebagai pembaca, kesan pokok serangkaian pengalaman getir yang dikecapnya adalah
keramahtamahan masyarakat Afghan terhadap Mehman (Tamu). Seorang kenalan
Agustinus yang asal Afghan dan bermukim di Amerika Serikat prihatin akan sikap
warga pribumi negeri adidaya itu yang memandang anjing sebagai sahabat terbaik.
Akan tetapi yang membuat saya termenung-menung ialah penuturan seorang pria
Pakistan yang sempat terdampar di Indonesia. Ia hanya sanggup tinggal 2 minggu,
karena menurutnya di Indonesia tidak ada pekerjaan dan masa depan.
Usai membaca Selimut Debu yang sarat kerendahan
hati, saya setuju dengan pendapat Maggie Tiojakin di pengantar buku ini, bahwa
Agustinus Wibowo memang bukan traveler, Ia seorang explorer dan observer. Inilah
buku yang penuh pengetahuan akan hidup, hidup dalam kesusahan yang
sebenar-benarnya.
"Hidup itu selalu ada naik-turunnya, seperti
pegunungan ini. Kita terkadang terengah-engah mendaki, terkadang meluncur turun
dengan lepas. Ada waktu susah, ada waktu berjuang, ada waktu berbahagia."
[hal.378]
Dalam email, saya tanyakan pada Agustinus, apa
sesungguhnya yang sedang ia cari dalam penjelajahannya. Saya ingin tahu apa misi
yang diembannya. Karena sungguh di mata saya, Agustinus ini sepertinya tidak
akan pernah berhenti untuk menjelajah. Mungkin baginya ini adalah sebuah
peziarahan panjang, sebuah meditasi batin yang ditemukannya ketika menyusuri
perjalanan demikian panjang dari satu tempat ke tempat lain hingga beratus-ratus
kilometer. Malahan bisa saya sebutkan bahwa ia telah mengabdikan dirinya untuk
selalu berada di perjalanan dan tak akan pernah sampai...setidaknya sekarang ini
sampai nantinya semua pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya akan terjawab
seiring dengan waktu
Tashakor. Manana. Terima
Kasih

No comments:
Post a Comment