Thursday, October 06, 2011

Book Review Selimut Debu - Khaak Kebanggaan Afghan

Judul : Selimut Debu
Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit : 2010
Hal : 461
Kategori : Budaya
 
Apa yang ada dalam benak anda mendengar nama Afghan? ll "Penyanyi" ll Ah, bukan itu lah.
Afghan atau lebih dikenal Afghanistan identik dengan Perang, Kemiskinan, Taliban, Teror bagi kebanyakan orang. Afghanistan membawa kesan kelabu dan melankolis. Tetapi di negeri yang tak kunjung usai dihajar perang puluhan tahun ini ternyata ada impian, tradisi kuno, kebanggan dan peradaban.
 
Afghanistan adalah negeri yang terselubung "Khaak" atau debu. Debu bukan sekedar debu. Bagi orang Afghan, debu itulah dari mana mereka berasal dan kemana nanti mereka berakhir. Debu adalah sejarah mereka, masa lalu dan kebanggaan, kecintaan dan penghormatan. Dari debu yang tanpa makna itulah kebanggaan Afghanistan bermula.
 
Buku Selimut Debu merupakan kumpulan tulisan dari penjelajahan Agustinus Wibowo di Afghanistan. Negara yang berkali-kali dilanda perang mulai dari serangan Uni Soviet, Mujahiddin dan Taliban hingga sekarang serangan bom bunuh diri pun masih sering terjadi. Sebenarnya banyak sekali bantuan dana mengalir ke negeri ini. Dana tersebut ditujukan untuk pembangunan kembali infrastruktur serta pelayanan kesehatan. Namun, korupsi yang merajalela pada pemerintahan membuat aliran dana itu pun tersesat hilang ke saku para pejabat. Ditambah lagi perilaku warganya yang sangat kesukuan. Afghanistan yang terdiri dari berbagai suku seperti Pashtun, Hazara dan lainnya saling menilai bahwa sukunyalah yang terbaik sedangkan suku lainnya adalah penipu. Hal ini terkadang memicu kekerasan antar suku dengan suku yang lainnya.
 
Saya tidak menyangka, Agustinus pemuda asal Lumajang Jawa Timur dan non muslim juga mempunyai ketertarikan yang begitu besar terhadap Afghanistan yang sarat konflik. Di sana bukan tempatnya memanjakan mata dengan panorama eksotis, melainkan menyaksikan pertarungan hidup dalam banyak area. Ketika ledakan bom menjadi banal, ketika merebahkan diri bukan di kasur empuk -melainkan sudut sebuah samavor (kedai teh) yang hiruk pikuk, ketika manusia dari berbagi lapisan mempertontonkan kepedihan yang mengiris hati.
 
Sajian bermuatan budaya menjadikan buku ini kaya. Budaya, yang perlu digarisbawahi dan dicetak tebal, yang menyamarakan segolongan manusia. Jarangnya meja dan kursi, sebab masyarakat Afghanistan terbiasa makan di lantai tanah yang ditinggikan. Orang-orang dari kelompok etnis yang saling menunjuk, terutama pada situasi yang tidak menguntungkan. Untuk hal baik, pasti etnik sendiri yang disanjung. Kalau buruk, cukup etnik lain yang jadi kambing hitamnya [hal.111].
 
Dalam kesendirian dan petualangannya, Agustinus berbagi pelajaran yang ia rangkum. Misalnya sikap mematok diri sebagai backpacker yang berkantong bolong. Ia senantiasa menawar setiap harga mati-matian dengan senjata andalan, "Man bepul hastam..Saya tak punya uang." Tak ubahnya doa, perilaku ini diganjar Tuhan dengan sebuah teguran : dompetnya hilang. dan ia harus makan nasi sisa agar dapat bertahan.
 
Satu hal lagi yang menarik dalam tulisan Agustinus Wibowo adalah tentang Bachabazi. Bachabazi berasal dari kata bacha yang artinya bocah laki-laki, dan bazi artinya 'bermain'. 'Bermain' bocah adalah hubungan seksual antara 2 pria, biasanya konotasinya adalah lelaki yang lebih tua 'bermain' dengan bocah yang masih muda. Di negara lain mungkin hal ini dikenal dengan istilah pedofilia. Kebiasaan ini sudah menjadi kultur bagi suku Uzbek dan suku Pasthun. Mereka yang melakukan bachabazi bahkan dihormati. Para orangtua bocah-bocah tersebut juga bangga karena anak mereka diperlakukan sebagai boneka hidup oleh 'orang terhormat' tersebut. 
 
Saya langsung teringat tokoh Assef mensodomi Hasan yang ditulis Khaled Hosseini dalam bukunya "Kite Runner". Selesai membaca bab itu, saya cukup terkejut, sesak heran dan tak habis pikir, bagaimana Hosseini bisa menempatkan konflik ini dalam novel yang berlatar Afghanistan. Maklum saya memang masih buta tentang negara penuh gejolak itu. Setelah membaca buku Selimut Debu ini hampir 3/4 nya saya tersadar, ternyata isu bachabazi adalah sebuah rahasia umum yang menjadi lelucon melegenda bahkan diabadikan oleh para pujangga Afghan dalam puisi-puisi mereka. Dalam budaya mereka yang sangat memuja kemachoan, fenomena ini bagai ironi, tak terkecuali dengan kisah Agustinus yang mengalami langsung percobaan 'pemaksaan' untuk melakukan bachabazi.
 
Lembar-lembar foto yang mempersemarak buku ini mengukuhkan bahwa perjalanan adalah memahami keberagaman di bumi. Merenungkan bahwa tidak semua orang mujur menghirup udara bersih, lolos dari kecurigaan, menikmati air yang berlimpah atau tidur lelap. Jejak Agustinus Wibowo di Iran menguraikan satu fenomena yang pedih, imigran Afghan yang dipandang sebelah mata oleh penduduk asli Iran. Tentu bukan tanpa alasan, penggganguran di Iran melonjak tajam semenjak orang Afghan berbondong-bonding mengadu nasib di negeri modern itu. Pasca lengsernya pemerintahan Ayatullah Khomeini, masyakarat Iran berupaya keras memulangkan pengungsi Afghan ke tanah air mereka.
 
Bukan isapan jempol bila paparan Agustinus akan kepedihan yang ditanggung orang Afghan di negeri para Mullah amat mencabik hati, seperti tatkala seorang kakek dan cucunya dibiarkan berjalan kaki selama dua hari karena sopir bus tak mau mengangkut mereka. Dandanan Agustinus yang menyerupai pendatang Afghan, aksennya, bahkan paspor Indonesia yang ditunjukkannya tidak membuat pemuda kelahiran tahun 1981 ini luput dari sikap diskriminatif. Kendati demikian, ia menyuguhkan sudut berimbang, semisal kala melihat orang-orang Afghan berebut paspor di gedung imigrasi.
 
Mereka tidak punya pilihan, sebab di negeri sendiri yang tersedia hanya Khaak (debu). Tak peduli harus tidur di atas karung, mereka tak gentar. Menjadi 'Afghan'  berarti berani, tahan banting dan pantang mundur. [hal. 330]
 
Selimut Debu tidak melulu menggelontorkan rasa pilu. Saya tersenyum kala seorang kakek heran melihat Agustinus mengenakan kacamata. Begitu mengetahui penyebabnya, kakek itu melarang Agustinus jangan banyak membaca buku karena tidak sehat untuk mata. Juga masyarakat Afghanistan yang cukup gemar memberi nama putra mereka Bismillah, sehingga seorang anak merasa dipanggil saat guru membaca doa. Senyuman akan kembali terbit sewaktu Agustinus panik menjelaskan flashdisk-nya hilang kepada tuan rumah dan rombongan yang kebingungan.
 
Satu hal yang ditarik Agustinus, juga saya sebagai pembaca, kesan pokok serangkaian pengalaman getir yang dikecapnya adalah keramahtamahan masyarakat Afghan terhadap Mehman (Tamu). Seorang kenalan Agustinus yang asal Afghan dan bermukim di Amerika Serikat prihatin akan sikap warga pribumi negeri adidaya itu yang memandang anjing sebagai sahabat terbaik. Akan tetapi yang membuat saya termenung-menung ialah penuturan seorang pria Pakistan yang sempat terdampar di Indonesia. Ia hanya sanggup tinggal 2 minggu, karena menurutnya di Indonesia tidak ada pekerjaan dan masa depan.
 
Usai membaca Selimut Debu yang sarat kerendahan hati, saya setuju dengan pendapat Maggie Tiojakin di pengantar buku ini, bahwa Agustinus Wibowo memang bukan traveler, Ia seorang explorer dan observer. Inilah buku yang penuh pengetahuan akan hidup, hidup dalam kesusahan yang sebenar-benarnya.
 
"Hidup itu selalu ada naik-turunnya, seperti pegunungan ini. Kita terkadang terengah-engah mendaki, terkadang meluncur turun dengan lepas. Ada waktu susah, ada waktu berjuang, ada waktu berbahagia." [hal.378]
 
Dalam email, saya tanyakan pada Agustinus, apa sesungguhnya yang sedang ia cari dalam penjelajahannya. Saya ingin tahu apa misi yang diembannya. Karena sungguh di mata saya, Agustinus ini sepertinya tidak akan pernah berhenti untuk menjelajah. Mungkin baginya ini adalah sebuah peziarahan panjang, sebuah meditasi batin yang ditemukannya ketika menyusuri perjalanan demikian panjang dari satu tempat ke tempat lain hingga beratus-ratus kilometer. Malahan bisa saya sebutkan bahwa ia telah mengabdikan dirinya untuk selalu berada di perjalanan dan tak akan pernah sampai...setidaknya sekarang ini sampai nantinya semua pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya akan terjawab seiring dengan waktu
 
Tashakor. Manana. Terima Kasih
 

 

No comments: