Thursday, October 06, 2011

Book Review : Garis Batas - Kodrat kehidupan manusia yang kaya warna


Judul : Garis Batas
Sub Judul : Perjalanan di Negeri -Negeri Asia Tengah
Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit : 2011
Hal : 510
Kategori : Budaya
Di Buku Garis Batas beserta tanda tangannya Agustinus menulis, Novri: "Garis Batas adalah kodrat kehidupan manusia yang kaya warna." Apakah mungkin sebuah imajiner buatan manusia mampu menentukan nasib (sekelompok) manusia.? Bagaikan garis taktir Tuhan, garis batas menentukan seluruh sendi kehidupan manusia. Berangkat dari pertanyaan itu sebagai tema sentral Agustinus Wibowo menyusun sebuah tulisan yang sangat menggugah berdasarkan perjalanannya menyusuri Asia Tengah, di negara-negara yang bahkan belum tertera di peta dunia ketika saya mempelajari peta dunia waktu sekolah dasar dulu.
Setelah mengenal Afghanistan lebih dekat lewat buku "Selimut Debu", Agustinus Wibowo mengajak kita bertualang melewati garis batas Afghanistan menuju negara-negara berakhiran -Stan. Melalui buku Garis Batas ini kita diperkenalkan lebih dekat dengan negara Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.
Garis batas geografis terkadang ditandai oleh sungai, pegunungan, jalan atau tonggak-tonggak yang terpancang antar dua wilayah negara yang berbeda. Saat kita melewati garis tersebut, banyak hal yang akan berubah. Dari negara yang berubah, maka bahasa, mata uang, agama, adat istiadat, budaya dan sebagainya pun berubah. Perubahan itu terkadang tipis tak terlihat hingga lebar tak terhingga.
Ada pepatah dari ranah minang "Di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung". Artinya kita disarankan untuk menghormati budaya dan adat istiadat di mana kita tinggal dan berada. Begitu juga dengan Agustinus yang beradaptasi dengan situasi dan lingkungan asing yang baru pertama kali ia pijak. Kita bisa melihat melalui buku ini bahwa Agustinus bisa melakukannya dengan baik. Ditambah lagi dengan keramahtamahan penduduk di berbagai daerah, sehingga kita bisa melihat kehidupan keluarga yang bersifat cukup pribadi.
"Garis Batas adalah kodrat manusia. Tanpa di sadari, kita adalah seonggok tubuh yang selalu membawa garis batas portabel kesana ke mari. Garis Batas menentukan dengan siapa kita membuka hati, dengan siapa menutup diri." [hal.46]
Di negara-negara itu terjadi perkembangan yang berbeda-beda.Tajikistan terkapar dalam kemiskinan. Kirgizstan dan Kazakhstan bergemilang kemakmuran kapitalisme, Turkmenistan diliputi nostalgia sosialisme utopis.
Tradisi Islam telah dipenggal Uni Soviet. Peradaban Islam meredup, hampir punah. Sholat, puasa, huruf arab dan azan jauh dari kehidupan kebanyakan muslim Uzbekistan. Ucapan 'assalamualaikum' berubah menjadi 'halo' dalam bahasa uzbek. Sejak Uzbekistan merdeka, Islam dihidupkan kembali dengan cara dan tujuan berbeda. Presiden Islam Karimov menjadikan Amir Timur simbol untuk melibas gerakan islam radikal. Padahal Amir Timur, pendiri Dinasti Moghul, orang Mongolia. Masjid terus dikontrol pemerintah. Azan tak boleh dikumandangkan. Isi khotbah jumat di sensor. Jenggot lelaki jadi masalah sensitif. Kaum militan ditangkapi. Jika teroris ditangkap, bapaknya juga di ciduk. Teroris dianggap produk kesalahan orang tua mendidik anak.
Tajikistan, yang terjepit dan terpencil di daratan Asia, lebih buruk lagi, teronggok di jajaran sepuluh negara termiskin di dunia. Ekomoninya berantakan sejak Uni Soviet bubar. Birokrasinya korup dan ruwet. Pengganguran tersebar di sekujur negeri. Banyak orang yang tak punya tujuan jelas. Kaum lelaki melepas kebosanan dengan menenggak vodka sampai geloyoran.
Umat Islam Syiah sekte Ismaili di Tajikistan tak berhaji. Mereka juga bisa dikatakan tak berpuasa. Mereka beribadah bukan di masjid, melainkan di jemaatkhana, rumah jemaah. Menyediakan tumpangan dan makanan bagi musafir merupakan ibadah haji mereka. Menolong musafir wajib hukumnya. Konsep tamu (mehman) mengakar kuat di masyarakat yang hidup di pegunungan pamir ini. Tamu adalah anugerah Tuhan.
Kazakhstan, mirip Uni Emirat Arab negeri kaya baru :menikmati kemakmuran mendadak berkat minyak dan gas. Sejak merdeka, Kazakhstan terus memordenisasi diri. Negara ini paling gandrung pada Uni Soviet. Ada ungkapan kalau mau jadi orang Rusia, belajarlah menjadi Kazak. Di Kazakstan hampir tak ada umat Islam yang bisa membaca huruf Arab. Dan kini negeri ini menjadi budak materialisme.
Kalau kita merenung, hal ini pun terjadi di Indonesia. Agustinus bercerita tentang dirinya yang mengalami diskriminasi atas kecinaannya. Agustinus yang lahir di Indonesia harus tumbuh dengan panggilan 'singkek' dari teman sebayanya. Hidup di sebuah negara yang tak mengakui eksistensi dirinya sebagai warga negara tentulah tidak mudah. Nasionalismenya dipertanyakan karena matanya yang sipit dan kulitnya yang kuning.
"Kulit membungkus manusia, warnanya adalah garis batas, identitas, label, penentu takdir."[hal. 265]
Lebih dari perbedaan ras itu, perbedaan agama pun menjadi persoalan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Sudah sering kita lihat banyak perselisihan dikarenakan perbedaan agama. Seperti halnya perbedaan ras, perbedaan agama ini dikarenakan yang satu merasa lebih benar dan terhormat. Bahkan yang seagamapun saling menuduh dan cekcok. Di negara-negara berakhiran -stan, hal ini pun terjadi. Mereka lebih percaya dengan rekan seagamanya dan mencurigai orang yang berbeda agama dengannya.
"Manusia selalu punya alasan-alasan berbeda untuk menentukan siapa "kita", siapa "mereka". Bagi sekelompok orang, agama adalah pemersatu, sementara bagi yang lain, kesamaan iman tak banyak berarti." [hal. 204]
Tajikistan adalah sebuah negara dengan penduduk wanitanya yang berwajah cantik. Negara ini pun disesaki pegunungan cantik. Saya lebih kagum lagi ketika negara yang secara ekonomi ini tergolong miskin, sangat menghargai pendidikan. Tapi sayang, birokrasinya menyusahkan dan sumber daya manusianya yang korup.
Sedangkan Kirgizstan juga tak jauh beda dengan Tajikistan mengenai birokrasi dan perilaku SDM yang korup. Tapi karena saya pecinta makanan, yang teringat oleh saya adalah ketika Agustinus ke daerah bernama Osh, sepertinya 'Laghman Uyghur' nikmat sekali. Bakmi tepal-panjang yang disiram dengan kuah dan bumbu yang terbuat dari irisan tomat, cabai pedas dan cacahan daging empuk dan bawang. [Wow.. serasa menelan air liur]
Perjalanan di Uzbekistan membuat saya merasa bangga sebagai rakyat Indonesia. Di perguruan tinggi Taskhent State Institute of Oriental Studies terdapat jurusan bahasa Indonesia. Lebih membanggakan lagi ketika ada pemudi Uzbekistan yang menjadi guru tari tradisional Indonesia.
Di antara negeri Asia Tengah, Kazakhstan adalah negara terluas dan terkaya. Banyak penduduk negeri tetangga yang memimpikan bekerja disana. Kazakhstan bagai daya tarik mereka demi penghasilan yang lebih besar. Walaupun pada akhirnya penghasilan yang besar itu tak lagi menjadi besar ketika biaya hidup di sana pun tak murah.
Sedangkan negara Turkmenistan adalah negeri dengan pemimpin bangsa yang dapat menghipnotis rakyatnya untuk patuh. Negara ini terpusat dan terkendalikan oleh sang pemimpin, Turkmenbashi. Segalanya murah disini tapi mesti diganjar dengan kebebasan yang terkungkung.
Seperti itulah sedikit gambaran tentang petualangan Agustinus di negara-negara berakhiran -stan. Tak sanggup saya tuliskan semuanya, karena hampir tiap paragrafnya begitu menarik untuk disimak.
Saya ingin berterima kasih kepada Agustinus karena dia telah meminjamkan kakinya untuk menjejak ke berbagai negara tersebut. Dan juga meminjamkan matanya supaya saya bisa melihat negara-negara tersebut lebih dekat dan nyata.
Buku ini tak sekedar perjalanan yang seru tapi banyak manfaat dan pembelajaran yang bisa kita serap, renungkan dan mengejawantahkan pada kehidupan kita.
Happy Reading.....

No comments: