Sunday, March 23, 2008

Terima Kasih Rangga, Walau Sesaat Tapi Membekas

Hpku bunyi dan aku lihat ada 1 pesan masuk
“Aku pingin ketemu, aku tunggu di kostku yang dulu dekat kantor, masih ingat jalannya kan. Cepetan ya!”
Begitulah bunyi sms yang aku terima dari Rangga. Lagi di Surabayakah dia ? dalam rangka apa, lalu buat apa dia minta aku ketemu di kostnya. Beribu pertanyaan yang ada dalam benakku waktu itu. Lalu aku berusaha jawab smsnya.
“Kamu di Sby ta ? ada apa aku ke kostmu, knapa kamu aja ke kantor aja, aku masih kerja” –> Send
Tidak terlalu lama balasan sms ada 1 pesan lagi masuk di HP samsungku
“Pokoknya aku tunggu dikostku yang dulu skrg! ini kan hari sabtu, tinggalin kerjaanmu”

Meski meninggalkan banyak pertanyaan, aku segera melarikan diri dari kantor dan menuju kost dia sewaktu masih kerja di Surabaya. Jaraknya gak jauh dari kantor.
“Mau kemana ?” tanya salah satu direktur ketika ketemu di parkiran.
“ehm, mau hunting buku di Togamas,” alasanku
Huh!.. (dalam hati) satu orang kena tipu… (sambil tersenyum)

Setibanya di kostnya dia. Hati ini udah gak karuan antara cemas, bahagia dan takut. Halah!..
“Assalammualaikum” sapa dia
“Walaikumsalam” jawabku
“Bisa kan ninggalin kerjaan” goda dia
“Apa sih yang gak bisa buat kamu”
Dia tersenyum
“Kapan datang dari Jakarta?” kataku.
“Kamis”
“Dalam rangka apa” tanyaku lagi
“Ada acara keluarga” jawab dia
“Mau dikawinkan ya? “ godaku
“ehm mulai lagi ngomong soal itu” protes dia
“Trus ngapain kamu suruh aku datang kesini”
“Aku mau ngajak kamu nonton Ayat-ayat cinta”
“What!” aku sangat terheran-heran

Sewaktu aku telpon dia beberapa hari yang lalu, dia bilang malas nonton film Indonesia apalagi Ayat-Ayat Cinta yang beberapa minggu ini filmnya jadi box office di bioskop. Lalu kenapa sekarang dia malah ngajak aku nonton film itu, padahal aku udah nonton 2 kali. Kalau dia ngajak nonton Ayat-Ayat Cinta berarti untuk yang ketiga kalinya.

“Kenapa? Kok bengong” sela dia
“Ah nggak, bukannya kamu alergi dengan film Indonesia, kok malah sekarang…”
“Kalo nontonnya sama kamu, gak alergi” sahut dia

Siang itu aku seperti mimpi mendengar ajakan dia, aku berusaha mencubit dan memukul tanganku. Barangkali aku sedang bermimpi. Nyata tidak, begitu aku cubit dan pukul tanganku terasa sakit. Aku cerita ke dia soal film Ayat-Ayat Cinta. Film itu GUE banget! Menangis itu sudah pasti. Sampai keesokan harinya mataku masih sembab karena menangis sepanjang malam teringat film itu. Aku cerita ke dia, kalau 2 kali nonton tidak ada yang nemani alias sendirian. Duh niat banget!. Aku juga cerita ke dia, teman kantor cuma janji-janji aja mau nonton bareng kalo film AAC main di bioskop. Nyatanya, mereka nonton dengan pasangan masing-masing. Beginilah nasibnya tidak punya teman hidup eh salah pasangan. Tapi buatku, nonton sendirian jadi lebih konsentrasi dengan alur cerita dan dialog-dialog yang bikin merinding. Mau nangis gak malu. Bingungnya kalo sudah keluar gedung bioskop mata jadi sembab. Eh tapi aku gak sendirian. Penonton yang kebanyakan ibu-ibu, remaja putri berjilbab, maupun remaja dengan baju tank top atau remaja etnis, aku lihat matanya berkaca-kaca dan tissu ditangan mereka basah karena airmata. Soal Komentar dan dialog film Ayat-Ayat Cinta pernah aku tulis sebelumnya.

“Mau kan, nonton dengan aku” tanya dia membuyarkan lamunanku
“E.e… Iya deh” jawabku agak terbata-bata
“Ya, aku pingin lihat kamu bahagia” kata dia
Aku hanya diam. Dalam hati aku berkata “Tumben”
“Sepedamu titipin disini, kita naik taksi aja” kata dia
“Jalan kaki aja, nonton di SUTOS, bioskop baru dekat dari sini” selaku
“Di sana ada toko bukunya” tanya dia
“Ehm.. kayaknya belum ada?” jawabku agak ragu-ragu
“Ya udah nonton di Tunjungan, sekalian aku mau beliin buku buat kamu”
“Hah? Gak salah dengar, mau beli buku?” heranku
“Iya, kenapa ?”
“Gak, heran aja” jawabku

Akhirnya kita naik taksi menuju Tunjungan Plaza. Dalam perjalanan kami hanya bercerita sekitar aktifitas sehari hari selama ini, suasana Jakarta malam hari, karena dia masih siaran sampai dinihari, cerita pagelaran musik java jazz, dia sempat wawancara dengan musisi luar negeri. Aku juga cerita tentang buku-bukuku, tentang suasana kantor yang makin tidak kondusif, tentang sakitku juga. Dia tekun mendengarkan meski tanpa komentar. Ya Tuhan, ingin rasanya aku bersandar dipundaknya dan berkata Rangga, aku butuh kamu…
Ah, aku tepis keinginan itu, Dia belum berubah seperti dulu masih dingin dan cuek, apalagi aku masih ingat yang dia katakan, “ jangan berharap lebih dariku”

“Yang jualan kue semprit di daerahmu masih ada” kata dia mencairkan suasana yang diam sesaat
“Ada, kamu mau ta?” basa-basiku
“Boleh, 2 bungkus aja”
“Kapan kamu balik Jakarta?” tanyaku
“Senin, naik kereta Agro Anggrek yang pagi”
“Kok gak naik pesawat”
“Long weekend, mana ada tiket murah”
“Trus, kapan ketemu lagi” tanyaku
“Hari senin aja di Pasar Turi, sebelum kamu berangkat kerja”
“Kamu gak mau main kerumahku?” harapku
“Bukan gak mau, tapi waktunya gak ada, keretaku hari senin itu jam 8.30”
“Maksudku, minggu besok, kerumahku” rayuku
“Kan aku dah bilang, ada acara keluarga” sahut dia
Aku hanya diam tidak berani melanjutkan percakapan tersebut.
Tidak lama taksi yang kami tumpangi menepi di depan Tunjungan Plaza. Setelah dia bayar taksi, kami memasuki halaman plaza pertama dan terbesar di Surabaya itu.
“Kalau ketemu anak kantor disini gimana?” tanyaku
“Insya Allah tidak, jarak kantor ke Tunjungan jauh” yakin dia
“Ah sok tahu”

Karena jadwal Film AAC di Tunjungan siang itu masih 2 jam lagi, dia ngajak ke Gramedia dulu. Aku masih ingat dulu, dia paling males baca buku. Tapi sejak aku sering cerita soal buku-buku bagus, dia suka baca buku. Kadang dia beri aku rekomendasi soal buku-buku bagus. Aku gak tahu motif dia suka baca buku, karena kebutuhan atau hanya menyenangkan diriku. Aku gak berani tanya.
“Btw, buku ayat-ayat cinta udah selesai dibaca?” tanyaku
“Masih setengah, agak monoton awal ceritanya”
“Tapi alur novel dan filmnya beda loh”
“Iya, aku tahu. Hanung sering cerita di media tentang alur cerita yang dibuat beda dengan novelnya. Aku juga pernah wawancara dengan Hanung”
“Oya?, kok kamu gak bilang, aku kan bisa titip pertanyaan ke dia”
“Halah, paling nanya, mas Hanung udah punya pacar belum” goda dia
“Idih, ngapain?, banyak hal yang pingin aku ketahui soal produksi film ayat-ayat cinta”
“Mau jadi pengamat film?” tanya dia
“Gak juga, aku kan udah baca novelnya, udah liat filmnya 2 kali, jadi wajarlah banyak hal yang aku pingin tahu dari produksi film itu” jelasku
“Duh nontonnya udah 2 kali, jadi nanti yang 3 kalinya. sebenarnya ngefans sama Hanung atau filmnya?” ledek dia
“Dua-duanya”
“Atau lagi jatuh cinta sama Hanung, dia kan duda?”
“Walah, mimpi kali jatuh cinta sama Hanung!. Jatuh cinta sama kamu tidak pernah terbalaskan dan bertepuk sebelah tangan, apalagi dengan Hanung” kataku
“Sudah, ujung-ujungnya kok ke aku lagi” protes dia
Aku hanya tertawa melihat dia salah tingkah lagi.
Lalu kami berpencar memilih buku sesuai dengan selera dan kebutuhan kami
“Jadi beli buku apa?” tanya dia ketika melihatku bawa 2 buku
“Aku beli buat perpustakaan aja, buku Kick Andy dan John Grisham” jawabku
“Buat kamu sendiri gak beli ?“
“Aku udah kebanyakan buku dan gak sempat baca, merasa berdosa beli buku tapi gak dibaca” jelasku
“Ini buku buat kamu” dia menyodorkan buku Hardcover Laskar Pelangi
“Aku kan udah punya Laskar Pelangi, bahkan ada tanda tangannya Andrea Hirata”
“Bukan yang hardcover kan?” sela dia
“Isinya kan sama, Rangga”
“Yang Hardcover buat kamu, yang softcover punyamu buat aku” tawar dia
“Tapi ada tanda….
“Sudahlah, ditukar sama yang bagus kok gak mau. Nanti minta lagi tanda tangan ke Andrea, kamu tidak pernah absen kalau Andrea bikin talkshow atau diskusi buku di Surabaya”

Itulah sifatnya Rangga, selalu minta menang sendiri dan orang harus nurut dengan keinginannya. Menjengkelkan memang, tapi anehnya aku tidak pernah berhenti untuk mencintai dia, masih berharap suatu saat pintu hatinya terbuka untukku. Ah… berharap lagi… !!!
“Ok,” aku menyetujui tawaran dia untuk tukar buku Laskar Pelangi.

Buku hardcover Laskar Pelangi terkesan mewah dan ada VCD acara Kick Andy yang bahas soal Laskar Pelangi dan Andrea Hirata.
“Jangan lupa bawa buku Laskar Pelangi punyamu hari senin di Pasar Turi” pinta dia
“Ok deh” sahutku

Setelah bayar buku yang beli, kami berdua bergegas menuju ke gedung bioskop Tunjungan yang berada di lantai 6, kami tidak mau sampai telat. Sebelum masuk ke bioskop, dia beliin aku roti boy dan air mineral dan dimasukkan di tasku, biar gak ketahuan penjaga bioskop. Biasanya ada larangan membawa makanan dan minuman dari luar area bioskop.
Biar udah nonton AAC 2 kali, aku tidak bisa membendung airmataku kalo sudah ceritanya bersentuhan dengan diriku. “Aku ingin menjadi yang halal bagimu”
Dia juga sangat menikmati film itu, aku gak tahu bagaimana perasaan dan pikiran dia selama menonton adegan demi adegan di film itu. Dia selalu marah kalau aku cerita duluan adegan berikutnya.
“Jangan cerita donk, jadi gak surprise” protes dia

Biar lebih banyak diam selama nonton, dia sekali-kali berkomentar tentang adegan yang menurutnya tidak sesuai kaidah Islam. Misalnya Saiful teman Fahri minum pakai tangan kiri atau ketika Fahri menjawab salam kepada Alice yang non muslim. Menjelang akhir adegan Maria yang meninggal dan lampu gedung bioskop menyala lagi aku sempat dengar nafas panjangnya untuk sembunyikan suara isaknya.
“Yeh, nangis” ledekku
“Terharu aja” bela dia
“Apa yang bikin kamu terharu” sahutku
“Aku bayangkan Maria itu kamu” kata dia
“Ih, kurang ajar” aku tinju lengan dia
“Trus Fahri seolah-olah kamu, lalu Aisyanya siapa?”
“Ehm, aku belum ketemu orangnya” jawab dia.
“Males dengar ocehanmu, pulang aku” sambil beranjak pergi
Aku segera bangkit dari kursi tapi langsung tanganku dipegang biar tidak beranjak dari kursi
“Duduk dulu, nunggu sampai sepi, males berdesak-desakan” pinta dia
“Gak mau, aduh ngapain pakai pegang-pegang tangan” aku lepaskan tangannya
Dia tertawa ngakak..
“Tapi kamu mau kan” sahut dia
“Mau, tapi kalau aku udah jadi istrimu” jawabku
Dia langsung diam dan beranjak mengikuti aku meninggalkan gedung bioskop.
“Tungguin, aku mau ke toilet dulu, tolong bawain dulu bukunya” dia membuka suara.
Aku tetap diam sambil aku raih barang yang dititipkan ke aku.

Rangga langsung mati kutu kalau bicara soal pernikahan. Boleh dibilang aku dan dia sudah hampir 7 tahun menjalin hubungan persahabatan. Dia selalu menggangap aku sebagai teman bahkan saudara. Tapi aku tidak bisa mengelak kalau aku jatuh cinta dengan dia ketika perjalanan pulang dari Pandaan ke Surabaya. Waktu itu kami satu mobil setelah acara Fun Rally yang diadakan radio kami bekerja, dimana aku dan dia masih kerja bareng. Dia penyiar dan aku dibagian Entry Data Processor. Sejak itu ngobrolan kita selalu nyambung tentang musik, diskusi agama, dunia hiburan dan lainnya. Dia 1 tahun lebih muda dari aku, makanya dia panggil aku Uni sampai sekarang. Keakraban kita dikira teman-teman kantor kalau kita pacaran. Akupun tidak bisa menjawab, karena pada faktanya kami tidak pacaran.
Dari perjalanan waktu yang begitu lama, sebenarnya kami saling membutuhkan dan merindukan. Apalagi setelah kami berpisah kota, dia berkarir di Jakarta dan aku memilih tetap di Surabaya komunikasi tetap berlanjut. Tapi kata cinta tidak pernah jadi materi perbincangan kita. Sampai suatu hari kita bicara soal pernikahan dia mengatakan bahwa mencintai seseorang tidak harus menikah dengan orang itu. Mencintai berarti memberi tanpa pamrih termasuk membiarkan orang yang dicintai pergi, Terbang, Menikmati kebebasannya…
“Kita tidak harus menikah Uni kalau ingin selalu bersama-sama” begitu kata-kata dia.

Aku tidak tahu arti sebenarnya kalimat itu dan kalau aku tanyakan lagi dia selalu mengelak dan diam. Selama hampir 7 tahun ini, meski ada laki-laki lain yang bikin aku tertarik dan menyukai tapi bayangan Rangga selalu ada dibenakku, hanya nama Rangga yang aku sebut dalam kesepian dan kerinduan. Hanya suara Rangga yang bikin hati tenang dan nyaman.. Rangga.. Rangga..Rangga…

“Sorry kelamaan nunggu ya” dia ambil buku yang aku bawa
“Gak juga, aku balik ke kantor aja” sahutku
“Temani aku makan dulu donk” ajak dia
“Aku udah lama ninggalin kantor” tolakku
“Ini kan udah masuk malam minggu, kantor gak ada yang cari kamu”
“Tapi..”
“Uni, aku ngajak kamu kesini buat bahagiain kamu, bikin kamu tertawa, bikin kamu keluar dari rutinitas di kantor yang menyebalkan yang sering kamu ceritakan, cuma dengan cara seperti ini, jalan-nonton-makan yang bisa aku lakukan.”
Aku hanya diam
“Kalau sesuatu yang bikin kamu bahagia harus dengan jalan menikahi kamu, aku belum bisa lakukan sekarang.
Aku tetap diam
“Ayolah uni, kita gak perlu berdebat soal menikah, kalau Tuhan ijinkan semuanya akan terjadi”
Aku diam lagi
“Kita makan dulu ya, setelah itu aku antar kamu ke kantor”
“Sepeda motorku kan di kostmu” sahutku
“Iya, aku tungguin kamu selesaikan kerja, ntar baru ambil sepeda motor di kostku”
“Kamu mau ke kantor?” tanyaku
“Ya, tapi aku tunggu diluar aja”
“Nunggu diluar ntar masuk angin”
“Ya udah, nunggu di perpustakaan sambil baca koran, mudah-mudahan ketemu sama anak-anak baru jadi gak kenal aku”
“Kalau ada yang kenal kamu” tanyaku
“Itu resikonya kalau aku masuk kekantormu, kalau aku nunggu diluar gak ada yang tahu”
“Ah udah…lapar aku dengar ngomongonmu.. makan yuk!”
“Ehm, bisa lapar juga ya kalo marah!” ledek dia
“Siapa yang bayar makannya?” tanyaku
“Aku lah, aku kan lagi kaya sekarang”
“Huh” aku pukul dia dengan buku yang aku bawa.
Dia juga balas pukul aku.
Dan kami berjalan menuju foodcourt sambil becanda dan suasananya jadi cair lagi.
Ah Rangga.. bagaimanapun kesal dan marahnya aku sama dia, aku selalu bisa memaafkan dia. Meski aku sudah berkali-kali disakiti oleh sikap dan perilakunya aku tidak pernah membencinya.
Aku selalu terbangun dalam tidur dan melihat Rangga sebagai belahan jiwaku..
Rangga…aku tidak tahu apa rahasia dan rencana Tuhan buat kami berdua.

Catatan : cerita ini fiktif belaka, bilamana ada kesamaan nama, tempat dan ide cerita, mohon maaf. Tapi kalo cerita ini dianggap kisah nyata dilarang protes. “Media Maret 2008″